Header Ads Widget

Asisten Sosial Sitirejo Hadir :

Ticker

6/recent/ticker-posts

MUNGKINKAH ANAK NAKAL KARENA ORANG TUA?



ASISTEN SOSIAL SITIREJO - Kenakalan anak tentu membuat gelisah dan sedih orang tua. Bagaimana tidak, karena apa saja yang dilakukan oleh anak yang nakal tentu berpengaruh terhadap kejiwaan orang tua. Apalagi jika kenakalan itu berhubungan dengan orang lain, tentu orang tua otomatis akan terkena beban jiwa karena telah terseret dalam permasalahan yang pelik. Itulah yang kita rasakan bila anak nakal –naudzubillahi min dzalik-. Oleh karena itu orang tua hendaknya berusaha mendidik anaknya semaksimal mungkin dengan pendidikan Islam dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar mendapatkan hidayah dan bersabar atas musibah yang menimpa.

Kenali macam kenakalan anak


Kenakalan anak banyak macamnya. Anak kecil umur 2 tahun ke atas, kenakalannya terkadang banyak gerak sehingga membuat perabotan rumah berantakan atau membanting alat-alat ringan yang berharga sehingga rusak. Walaupun ada yang bilang anak itu tidak nakal, karena dia masih kecil. Bahkan itu menunjukkan berkembang akalnya. Namun jika hal itu dinilai nakal, maka penanggulangannya lebih mudah. Yaitu, singkirkan barang yang sekiranya bisa dirusak oleh anak, dan gantilah dengan mainan yang tidak merusak akal atau badannya.

Jika anak itu sudah bisa diajak bicara dan mungkin menerima nasihat, maka nasihati dia. Semisal ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melihat anak kecil yang sedang makan tidak mengikuti sunnah, beliau lalu menasihatinya.
Umar bin Abu Salamah Radhiallahu’anhu berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah, tanganku ber-‘seliweran’ (kesana kemari) di nampan saat makan. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Nak, bacalah bismilillah. Makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu!’ Maka seperti itulah gaya makanku setelah kejadian itu. (HR. Bukhari: 4957)

Demikianlah di antara cara yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah ketika ingin meluruskan kesalahan anak kecil. Dan dari hadits di atas juga, dapat diambil pelajaran, bahwa bila Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam saja mengajari anak kecil tentang bagaimana cara makan yang baik, tentu lebih utama bila kita lebih memperhatikan pendidikan akidahnya.

Dari hadits di atas in syaa Allah dapat dimengerti, bahwa penanggulangan kenakalan anak yang masih kecil lebih mudah. Yang penting ada yang mengawasi dan ada yang menasihatinya setiap saat. In syaa Allah selesai perkaranya. Orang tua tidak perlu berlaku keras (baca: kasar) kepada anak, karena dia belum sempurna akalnya dan masih lemah fisiknya.

Bila anak telah dewasa


Bila anak yang nakal telah mendekati usia baligh atau bahkan sudah baligh, maka ini lebih menyedihkan orang tua dan dapat membawa musibah yang cukup besar. Karena kenakalan anak ini umumnya dengan bangkitnya syahwat, sehingga bisa mempengaruhi ibadah, akhlak, dan merusak akalnya. Jadi, cara penanggulangannya harus dicari sebab kenakalannya. Karena bisa jadi lantaran orang tua tidak mendidik dan mengawasinya, atau karena perbuatan jelek orang tua yang diam-diam ditiru oleh anaknya. Jika demikian, orang tua harus meluruskan dirinya terlebih dahulu agar anak tetap menjadi anak yang baik. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. at-Tahrīm: 6)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengomentari ayat di atas, “Hendaknya manusia menjaga dirinya dengan melaksanakan perintah Allah Azza wajalla dan menjauhi larangan-Nya, serta membentengi istri dan anaknya dengan mendidiknya, mengajarinya syariat Islam, dan memaksa mereka agar melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena tidak mungkin manusia menjadi baik, melainkan bila dirinya baik. Demikian juga anak, istri, serta orang yang menjadi tanggungannya.” (Taisir al-Karimir Rahman: 1/874)

Mungkinkah anak nakal karena orang tua?


Jawabnya, mungkin. Karena orang tua tidak maksum (bersih dari kesalahan). Bahkan pada zaman sekarang, banyak orang tua yang tidak mengerti agama Islam. Jika demikian, bagaimana dia bisa menjadi orang tua yang baik dalam akidah, ibadah, dan akhlaknya? Orang yang mengenal agama Islam pun masih banyak yang melanggar larangan Allah Tabaaraka wata’ala dan meninggalkan perintah-Nya. Jika orang tua nakal karena melanggar syariat Islam, maka tidak mustahil bila anak meniru kemaksiatan dan kezaliman orang tua. Bila demikian, bagaimana bisa orang tua menuntut anak agar menjadi baik, sedangkan dirinya sendiri nakal? Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَـٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri. Padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. al-Baqarah: 44)

Qatadah berkata, “Bani Isra’il memerintah manusia agar taat kepada Allah dan menjadi orang yang bertakwa serta berbuat baik, padahal mereka sendiri melanggar ketentuan Allah. Maka Allah mencela mereka. (Tafsir Ibnu Katsir: 1/246)

Dampak kenakalan orang tua terhadap anak


Amal orang tua yang jelek tentu berdampak jelek kepada anak yang masih kecil. Karena anak sejak kecil sudah ditemani oleh setan. Dia belum bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dia lebih suka meniru apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar dari orang tuanya daripada dia berbuat sesuatu dari hasil pikirannya. Karena menurut asalnya, anak berada dalam keadaan fitrah (suci). Orang tuanyalah yang berperan besar memoles anak akan menjadi apa nanti besarnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang terkenal, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanya yang me-yahudi-kannya atau me-nasrani-kannya atau yang me-majusi-kannya. Seperti lahirnya binatang ternak. Apakah kamu melihatnya ada yang cacat hidung dan telinganya?” (HR. Bukhari: 5/182)

Orang tua adalah guru bagi anak selama 24 jam. Jika bapak dan ibu berbuat kejahatan, berarti dia mengajari anaknya berbuat kejahatan juga. Semisal jika orang tua makan dengan tangan kiri, anak pun juga demikian. Jika orang tua suka memukul, berlaku keras kepada keluarga, membentak, maka anak otomatis akan meniru juga. Maka bagaimana bila keadaan anak yang seperti itu berlangsung hingga menjelang baligh atau memasuki masa baligh? Tentu akhlak itulah yang menjadi pegangan erat bagi anak untuk melandasi perbuatan jahatnya dan menjadi anak yang nakal, kecuali anak yang mendapatkan hidayah dan berilmu, dia bisa memilih yang baik. Karena begitu besar pengaruh orang dekat dalam mempengaruhi akhlak seseorang, sehingga Rasulullah bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Orang itu mengikuti agama teman akrabnya, maka hendaknya salah satu di antara kalian melihat siapa teman dia.” (HR. Abu Dawud 2/675, dihasankan oleh al-Albani)

Jika orang tua menginginkan anak yang shalih dan shalihah, hendaknya ibu dan bapak benar-benar menjadi contoh yang baik dalam akidah, ibadah, dan akhlaknya. Jangan sampai orang tua melarang anaknya mencuri, berjudi, meminum minuman keras, tetapi orang tua masih melanggarnya. Orang tua menyuruh anak agar beramal shalih seperti shalat, membaca al-Quran, namun orang tua malas, bahkan jarang mengamalkannya. Yang lebih mengherankan, orang tua melarang anaknya merokok, namun dia sendiri merokok dihadapan anaknya. Sungguh besar kebencian di sisi Allah bagi orang yang mengatakan (menganjurkan kepada manusia) apa saja yang tidak dia kerjakan. (Lihat QS. ash-Shaff: 3)

Di antara akhlak orang tua yang buruk


Orang tua yang bodoh tentang agama dan berwatak keras sangat berbahaya bagi pendidikan anak, misalnya dalam akhlak: sering berbicara buruk, suka mencaci, mencela, pemarah, sombong, suka bertengkar antara ibu dan bapak, suka menyelisihi janji. Itulah di antara penyebab fatal yang dapat mengakibatkan anak menjadi nakal.

Misal dalam akidah yang merusak akal anak: seperti orang tua mempercayai azimat, mantra-mantra, meminta kepada ahli kubur, berkeyakinan bahwa dukun atau peramal mengetahui urusan gaib dan yang lainnya.

Misal dalam ibadah, seperti: orang tua malas shalat lima waktu (bahkan terkadang meninggalkannya), malas menuntut ilmu agama (seperti mengaji), dan meninggalkan amal ibadah wajib lainnya, tentu itu akan berakibat anak menjadi nakal. Karena orang yang meninggalkan amalan wajib, niscaya ia sedikit banyak akan menuju kepada perkara yang diharamkan oleh Allah Azza wajalla.

Orang tua mengerjakan perkara yang haram, semisal suka memukul, makan dengan tangan kiri, mencuri, mengurangi timbangan ketika jual beli, menipu, berzina, berjudi, mabuk-mabukkan, membuka aurat, berpakaian pressbody (bagi wanita), dan mengerjakan perkara haram lainnya, maka tidak mustahil anak akan meniru kenakalan orang tuanya.

Orang tua yang suka menonton gambar dan acara televisi yang tak layak dilihat, yang mengakibatkan bangkitnya syahwat dan menyia-nyiakan waktu, maka perbuatan ini juga bisa mengakibatkan kenakalan anak, terutama jika mereka mendekati usia baligh dan yang sudah baligh. Hal itu jika anak mereka tidak dibekali dengan iman.

Maka, sudah semestinya kita sebagai orang tua untuk introspeksi diri. Jangan-jangan kenakalan anak karena ulah kita sendiri?!. Dan hendaknya orang tua mau menasihati anaknya bila didapati melanggar syariat Allah, agar anak menjadi shalih dan shalihah. Bila bukan mereka yang menjadi generasi pewaris yang shalih, maka siapa lagi?

 

Follow fanpage sitirejo tambakromo
Instagram @sideka_sitirejo

Posting Komentar

0 Komentar